Perempuan Berbagi Cerita: Pengalaman Keberagamaan dari Australia

Ini adalah postingan pertama dari seri Hidup Damai. Seri ini berdasarkan ‘Hidup Damai di Negeri Multikultur’, sebuah buku yang ditulis oleh 77 alumni AIMEP yang menceritakan pengalaman mereka ketika berkunjung selama dua minggu ke negara tetangga.

 

Dalam postingan pertama, Yuyun Sunesti, alumni AIMEP 2007, membagi pengalaman keberagamaan saat di Australia. Khususnya pengalaman mengikuti konferensi perempuan lintas agama di Melbourne.

 

Bacalah cerita Yuyun di bawah ini:

Yuyun Sunesti

Saya mewakili Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) UGM mendapatkan kesempatan yang tidak pernah dilupakan, yaitu mengunjungi tokoh-tokoh agama, aktivis, organisasi multikulturalisme, komunitas lintas agama dan belajar dari pengalaman mereka mengelola keragaman di Australia.

Hal yang paling menarik perhatian saya adalah berkumpulnya perempuan-perempuan lintas agama dalam forum sharing pengetahuan dan pengalaman keagamaan. Mereka bercerita dan berbagi nilai-nilai luhur ajaran masing-masing tanpa prasangka, berlapang dada, saling menerima, dan dengan perhatian penuh.

Di rumah kecil bernama “The Grove Holistic Centre for Spirituality”, di East Brunswick, konferensi perempuan di adakan. Bayangan kami akan sebuah konferensi formal di sebuah gedung besar ternyata meleset. Benarkah ada konferensi perempuan? Kami dibawa masuk ke ruang paling belakang, sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan telah dipenuhi oleh perempuan.

Saya menemukan pertemuan perempuan Melbourne ini layaknya pengajian ibu-ibu di Indonesia. Yang berbeda adalah peserta konferensi berasal dari tiga agama–Kristen, Islam dan Yahudi—dan seluruh peserta adalah peserta aktif. Tidak seperti pengajian ibu-ibu di beberapa daerah di Indonesia yang pasif mendengarkan ceramah sang ustaz, ‘pengajian’ ini mewajibkan seluruh peserta untuk mempresentasikan hasil bacaan mereka dari buku-buku yang mereka baca di rumah.

Semua antusias membagi hasil bacaan mereka di forum. Setelah selesai, berdiskusi, mereka saling bercerita tentang joke-joke yang popular di agama masing-masing. Pada akhir acara, tuan rumah menyuguhkan makanan-makanan kecil khas Australia yang super legit.

Dalam forum tersebut, saya belajar betul bahwa berdialog tentang ajaran dan isu-isu keagamaan tanpa didahului prasangka akan membuahkan dialog yang tulus, saling memahami dan empati. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun bukan untuk membandingkan kebaikan atau keburukan agama satu dengan lainnya, namun pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui dan memahami inti ajaran agama lain.

Yuyun Sunesti

Indonesia

AIMEP 2007

Read Yuyun’s full story and other alumni stories in the book: Hidup Damai di Negeri Multikultur!

Picture of Mosaic Connections

Mosaic Connections

Related posts

Greening My Eid

by Sana Gillani, AIMEP 2012   My experience of Ramadan growing up in Sydney, Australia, represents an eclectic mix of diasporic and developing traditions. I

Read More »